Romantisasi Rahwana dan Matinya Makna Cinta
Di media sosial, terutama platform berbasis video singkat, cerita besar sering kali diperkecil menjadi potongan emosi. Tidak ada ruang untuk konteks, nilai ataupun sebab-akibat. Yang penting menyentuh perasaan, viral dan mengundang simpati.
Misalnya cuplikan video pementasan cerita Ramayana di TikTok yang ada suara latar "Tuhan, kalau cintaku pada Sinta terlarang, mengapa kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku".
Nah, coba lihat di kolom komentar. Banyak sekali yang bilang kalau Rahwana adalah lelaki tulus karena mencintai Dewi Sinta apa adanya. Ini salah satu komentar yang sempat saya screenshot "Jika aku menjadi sinta, aku akan selalu memihak ke Rahwana. Karena rupa bisa luntur, tetapi watak tulus akan sampai mati. Apakah kita hidup dengan rupa saja? Apakah kita tidak ingin hidup ayem tentram?"
Rahwana, tokoh antagonis dalam Ramayana dirayakan sebagai lambang cinta tulus sementara Sri Rama justru dicurigai sebagai lelaki yang “tidak mencintai istrinya apa adanya”.
Fenomena ini bukan sekadar salah tafsir cerita klasik. Ia mencerminkan pola pikir baru pengguna media sosial, di mana perasaan lebih dipercaya daripada nilai dan simpati sering mengalahkan kebenaran. Ramayana yang seharusnya mengajarkan dharma, tanggung jawab dan pengendalian diri berubah menjadi kisah cinta sepihak yang dipelintir.
Tulisan ini bukan hendak membela satu tokoh dan menyerang yang lain, melainkan mengajak pembaca melihat bagaimana pola pikir media sosial perlahan menggeser makna cinta itu sendiri.
Rahwana yang Direka Ulang oleh Media Sosial
Dalam narasi yang ramai beredar, Rahwana digambarkan sebagai sosok yang “tulus”. Dia tidak menyentuh Dewi Sinta, dia menunggu dan dia setia pada perasaannya. Potongan ini kemudian dijadikan bukti bahwa Rahwana lebih mencintai Dewi Sinta dibanding Sri Rama.
Namun ada satu hal besar yang sengaja dihilangkan: Rahwana menculik Dewi Sinta.
Tidak menyentuh seseorang yang diculik bukanlah bukti cinta. Itu hanya menahan diri dari satu bentuk kekerasan sambil tetap melakukan kekerasan yang lain. Yakni perampasan kebebasan. Jika seseorang dipenjara tanpa dipukul, dia tetap dipenjara.
Cinta yang dimulai dari penculikan, ancaman dan pemaksaan kehendak bukanlah cinta. Itu adalah obsesi yang dibungkus perasaan. Dan memang itulah yang sebenarnya terjadi dengan Rahwana. Rahwana menculik Dewi Sinta yang merupakan istri dari Sri Rama. Sekarang pertanyaannya: "Lelaki tulus mana yang tega merusak kebahagiaan lelaki lain?"
Sri Rama dan Cinta yang Tidak Dramatis
Di sisi lain, Sri Rama kerap disalahkan karena dianggap “tidak membela Dewi Sinta sepenuhnya”. Uji api (Agni Pariksha) dan keputusan-keputusan pahit Sri Rama sering dipahami sebagai bukti kurangnya cinta.
Padahal Sri Rama tidak sedang bertindak sebagai lelaki biasa, melainkan sebagai raja yang terikat dharma. Yakni tanggung jawab moral, sosial dan spiritual. Dia menempatkan kebenaran dan martabat di atas kepuasan emosional. Cintanya tidak lantang, tidak romantis dan tidak mudah dipahami oleh budaya yang terbiasa dengan drama.
Cinta Sri Rama bukan cinta yang ingin terlihat, melainkan cinta yang siap berkorban.
Ketika Ego Disebut Cinta
Media sosial hari ini cenderung memihak tokoh yang “menderita” dan “terlihat emosional” meski caranya salah. Dari sinilah lahir kebingungan besar dalam memaknai cinta.
Ego berkata: “Aku mencintaimu, maka kamu milikku.”
Cinta berkata: “Aku mencintaimu, maka kamu bebas.”
Rahwana ingin memiliki Dewi Sinta sedangkan Sri Rama menjaga kehormatannya. Rahwana mengejar perasaan sedangkan Sri Rama memikul tanggung jawab.
Namun algoritma tidak menyukai ketenangan. Dia lebih menyukai konflik, luka dan narasi anti-hero. Maka wajar saja kalau Rahwana dirayakan sedangkan Sri Rama malah dipertanyakan.
Pola Pikir Instan dan Hilangnya Nilai
Pola pikir media sosial membentuk generasi yang menilai cinta dari intensitas emosi, bukan cara. Membela perasaan tapi lupa dengan etika. Menganggap niat baik cukup meskipun jalannya salah. Padahal dalam nilai kehidupan terutama dalam cerita Ramayana, cara adalah segalanya. Niat baik tidak pernah membenarkan tindakan yang melukai orang lain.
Pada dasarnya, lelaki yang benar-benar tulus tidak akan pernah merusak rumah tangga orang lain. Karena cinta sejati tidak lahir dari paksaan. Dan sudah pasti sebuah kesetiaan tidak perlu dibuktikan dengan penculikan.
Cinta yang Perlu Dipelajari Ulang
Romantisasi Rahwana bukan sekadar kesalahan membaca cerita lama. Dia adalah tanda bahwa makna cinta sedang bergeser. Dari tanggung jawab menuju pemuasan ego. Dari penghormatan menuju kepemilikan.
Ramayana sejak awal tidak mengajarkan kita untuk mengagungkan Rahwana, melainkan belajar dari kejatuhannya. Dia kuat, cerdas dan besar. Namun hancur karena tidak mampu mengendalikan keinginannya sendiri.
Terakhir, Rahwana ingin memiliki sedangkan Sri Rama rela kehilangan demi menjaga kebenaran. Dan kita masih bingung siapa lelaki sejati dan tulus dari keduanya?

Nahloo bingung nih? 🤣🤣
BalasHapusKeduanya tetap laki2 sejati..Nah kalau masalah tulus kembali lagi deh ke Dewi Shintanya sendiri.🤣🤣
Asal Dewi Sinta nya tak pakai standar TikTok kayaknya bakal gampang menentukan pilihan 🤣🤣
HapusSaya juga gak mau komentari cerita ramayana dengan rahwana sinta ini karena saya memang belum pernah ikuti.
BalasHapusTapi namanya potongan klip di sosmed sekarang emang sering bikin salah paham sih
Saya juga sependapat nih sama Mas Liyon, kalau nonton dari potongan klip, informasi yang didapat juga terpotong-potong. Makanya wajar juga bila orang-orang yang komentar seperti itu berkomentar begitu. Siapa tahu, pendapatnya bisa berubah andai tahu cerita lengkapnya 🤔
HapusBenar sekali Mas Liyon. Media sosial memang sering memotong cerita, sementara nilai justru ada pada konteks utuhnya. Sebenarnya itu yang ingin saya saya sampaikan lewat tulisan ini.
HapusBenar sekali Kak Ristra. Memang sangat mungkin pendapat berubah ketika konteksnya utuh. Tulisan ini bukan hendak menyalahkan siapa pun, melainkan mengajak melihat bagaimana potongan narasi bisa menggeser makna, khususnya soal cinta dan tanggung jawab.
Hapus