Saya dan Susanti termasuk mahasiswa awal yang melaksanakan Seminar Proposal (Sempro). Awal bulan Maret kemaren ketika teman-teman seangkatan masih bingung dengan judul skripsi, judul kami berdua malah sudah di acc sama Ka Prodi. Setelah acc, kami langsung gerak cepat melakukan penelitian di tempat yang telah di tentukan. Saat bulan Ramadhan, teman-teman yang lain sibuk merencanakan buka bersama (bukber), kami berdua malah sibuk membuat Proposal Skripsi dan bimbingan dengan dosen pembimbing masing-masing. Puncaknya, tanggal 16 April 2025 yang lalu kami berdua melaksanakan Seminar Proposal di hari yang sama. Cuma beda jam mulai dan ruangannya saja.
Setelah Seminar Proposal, kami berdua bergerak santai. Malah terlalu santai saya rasa. Seharusnya kami langsung tancap gas mengerjakan aplikasi dan laporan skripsi biar bisa seminar hasil satu atau dua bulan kedepan. Tapi hal itu tak kunjung bisa kami kerjakan. Kami malah memilih liburan bersama dengan keluarga masing-masing ke Rupat Utara (Untuk cerita liburan ke Rupat Utara masih berupa draft. Nanti kalau sudah selesai akan saya terbitkan di blog ini).
Tapi bukan liburan tersebut yang menjadi kendala utamanya. Sebab pada kenyataannya, kami hanya liburan 3 hari saja. Selebihnya, iya MALAS 😂
Sebenarnya saya nggak kebanyakan tidur. Bahkan di beberapa kesempatan saya malah nggak bisa tidur sama sekali. Banyak faktor yang menjadi penyebab kenapa seminar hasil yang saya impikan meleset dari target yang telah di tentukan.
Pertama, kerja. Iya, setelah selesai Sempro kemaren kerjaan datang silih berganti. Sudah kayak pengemis di lampu merah. Nggak di kerjakan, tapi harus. Di kerjakan, energi terkuras terus menerus. Saya benar-benar dilema waktu itu.
Kedua, laptop rusak. Bukan laptop saya tapi laptop Susanti. Lah, apa hubungannya? Sebenarnya nggak ada hubungan sama sekali. Sebab saya punya laptop yang sehat wal'afiat. Performa laptop saya lumayan gacor setelah HDD nya di ganti SSD dan RAM nya di upgrade menjadi 12 GB beberapa waktu yang lalu. Tapi karena saya dan Susanti selalu mengerjakan apapun tugas kuliah secara bersama-sama, jadinya ketika laptop Susanti rusak saya seperti kehilangan 1 sayap. Jadi oleng ketika berusaha untuk terbang sendirian.
Ketiga, patah hati. Dari banyaknya kendala yang saya hadapi setelah selesai Sempro kemaren, patah hati lah yang membuat saya benar-benar terpukul. Kalau seandainya semua berjalan seperti yang di harapkan, mungkin paling lambat awal Juni kemaren saya sudah siap aplikasi dan laporan skripsi nya, tinggal menunggu jadwal sidang nya saja lagi.
Tapi ternyata Tuhan ingin agar perjalanan meraih gelar sarjana ini lebih berkesan buat hidup saya. Makanya di berikan cobaan yang hampir tidak bisa saya pikul. Berhari-hari saya nggak bisa tidur nyenyak. Hati saya selalu bertanya setiap saat. Kenapa? Kenapa? dan Kenapa?
Padahal saya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi kenapa ketika saya butuh support dan dukungan saat mengerjakan skripsi, Tuhan malah kembali memporak-porandakan hati ini? Seindah apa di depan sana sehingga saya harus kembali mengalami luka yang sama?
Ada lebih kurang dua bulan saya terpuruk dalam kondisi seperti ini. Saya tidak berada di performa terbaik seperti awal tahun kemaren. Keseharian saya hanya kerja, pulang, main HP, besoknya kerja lagi. Lengah sedikit Ka Prodi sudah tanya kapan seminar hasil.
Tapi Tuhan itu baik. Ketika dia memberikan cobaan, tidak mungkin lupa menyertakan penawarnya. Itu yang saya alami kemaren. Ketika saya terpuruk dan tidak tahu kemana arah yang mau di tuju, tiba-tiba Tuhan mengirimkan seseorang sebagai kompas. Saya saja sempat bingung, ini bocah kenapa bisa datang tiba-tiba ya? 😆
Tidak ada jawaban pasti. Tapi sayup-sayup saya mendengar lirik lagu Coboy Junior - #Eeeaa
Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeaa
Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku eeeaa
Kehadirannya benar-benar memberikan dampak positif. Saya seperti orang yang terbangun dari tidur yang cukup panjang. Pelan tapi pasti saya kembali ke performa terbaik. Puncaknya, saya hanya butuh waktu satu minggu untuk menyelesaikan aplikasi dan laporan skripsi 100%. Bukan cuma untuk saya tapi di waktu bersamaan bisa menyelesaika aplikasi Susanti juga.
PANGERAN BONGAN IS BACK 😎
Awalnya saya berencana mau seminar hasil hari Selasa tanggal 12 Agustus 2025 yang lalu. Biar bisa bareng teman-teman yang lain. Lebih ramai lebih baik. Tapi ternyata itu cuma harapan saya saja. Ada teman yang awalnya dia keteteran saat bimbingan skripsi, saya support dia agar tetap semangat dan cepat acc. Berbagai kalimat motivasi dan penghibur saya berikan sama dia waktu itu.
Hasilnya cukup positif. Dia berhasil acc tepat waktu. Tapi disinilah kekecewaan saya di mulai. Kemaren dia bilang mau seminar hasil sama-sama tapi ketika waktunya tiba dia malah menghilang begitu saja. Saya nggak masalah kalau dia mau sidang duluan. Tapi caranya itu yang nggak banget. Nggak ada basa-basi nya sama sekali.
Saya jadi kefikiran seperti ini "Kawan lambat, awak tunggu. Kawan cepat, awak ditinggalkan".
Tapi saya santai saja. Sebab saya ingat Eudora pernah berkata "Kita akan lihat siapa yang akan tertawa paling akhir".
Jadinya saya dan Susanti dapat jadwal seminar hasil hari Kamis tanggal 14 Agustus 2025. Kami berangkat berdua dari Bengkalis ke Pekanbaru hari Rabu dengan menggunakan travel.
Niatnya nyebrang pulau pakai roro pertama jam 07.00 WIB, tapi setelah saya sampai disana, saya tidak melihat Susanti sama sekali. Dan roro pertama lewat begitu saja.
Lima menit setelah roro pertama berangkat, saya masuk roro kedua. Dari pintu roro saya melihat Susanti datang. Busyet, Susanti bawa barang banyak banget. Sudah kayak mau pergi umroh. Padahal cuma satu hari doang di Pekanbaru. Dia terlihat kesusahan membawa barang-barang tersebut. Ada tas sandang, koper dan beberapa kantong yang di jinjing. Saya curiga dalam kantong tersebut isinya anak ayam warna warni yang biasa di jual di sudut-sudut pasar 😏
***
Kami sampai ke Pekanbaru pukul 13.15 WIB. Langsung minta di antar ke Universitas Hang Tuah Pekanbaru sama sopir travel nya. Sebab di kampus ini sudah menunggu teman kami, Abu Hanifah. Selain itu Susanti juga mau ketemu Ka Prodi sebentar. Rencana Bang Abu yang akan mengantar kami berdua ke penginapan.
Biasanya kami selalu menginap di Cititel Hotel seperti saat Seminar Hasil Kerja Praktek dan Seminar Proposal beberapa waktu yang lalu. Sebab saat itu kami perginya beramai-ramai. Jadi, sewa kamar nya bisa patungan. Tapi karena kali ini kami cuma pergi berdua, jadi kami putuskan untuk menginap di rumah Ningrum saja.
FYI, Ningrum ini teman kuliah kami berdua. Cuma bedanya dia masuk kuliah satu semester sesudah kami berdua jadi mahasiswa. Itu artinya, saat kami skripsi dia baru semester dua. Anaknya baik banget. Muka nya kalau di lihat sekilas mirip artis Indosiar saat saya SMP dulu, Penty Nurafiani.
Nah, awalnya kan Bang Abu yang akan mengantar saya dan Susanti ke rumah Ningrum. Tapi pas kami sampai di kampus, Ningrum chat kalau dia yang akan menjemput kami langsung di kampus. Jadi, kami langsung ikut dia saja. Saya fikir-fikir, kesian juga kalau Bang Abu harus jauh-jauh cuma untuk mengantar kami berdua. Sebab, saat itu Bang Abu bawa anak dan istrinya. Jadi, kayak nggak enak saja.
Tadi kan saya bilang Susanti mau ketemu Ka Prodi sebentar. Nah, pas ketemu Ka Prodi ini dia masih sempat-sempatnya bimbingan. Dan hasilnya bisa di tebak, laporan skripsinya banyak banget yang kena coret. Masalahnya, besok sudah seminar hasil. PPT belum di buat. Laporan skripsinya juga banyak yang perlu di perbaiki. Fix, malam ini pasti kami di paksa untuk bergadang.
Setelah makan sama keluarga Bang Abu di kantin kampus, kami langsung ikut Ningrum kerumah. Sampai saja di rumah Ningrum, kami langsung bergantian sholat ashar. Setelah itu langsung bantu Susanti memperbaiki laporan skripsinya.
Btw, saya cukup terkesima dengan tata letak rumah Ningrum. Sumpah, cantik banget. Meja ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dapur, mushola dan taman kecil nya bersih dan tertata dengan rapi. Hanya orang kreatif dan rajin saja yang bisa melakukan semua ini. Yuppp, benar sekali. Ningrum sedang mencari suami yang merawat semua ini. Sendirian.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Belum selesai laporan skripsi Susanti di perbaiki, adzan maghrib pun berkumandang. Saya langsung bergegas mandi dan sholat maghrib. Awalnya saya berencana mengajak Susanti dan Ningrum keluar nongkrong sama teman-teman kuliah yang ada di Pekanbaru, tapi niat rencana tersebut langsung saya urungkan.
Pertama, laporan skripsi Susanti belum selesai di perbaiki. Kedua, Ningrum juga terlihat kantuk berat. Masalahnya cuma Ningrum yang bisa bawa mobil. Sangat berbahaya mengemudi dalam keadaan mengantuk. Saya tidak mau terjadi apa-apa dalam perjalanan. Bukan cuma mau seminar hasil besok pagi tapi saya juga belum nikah. Saya tidak mau di kubur dalam keadaan memeluk batang pisang 😂
Jadi, malam itu kami bertiga tidak kemana-mana. Cuma sibuk depan laptop saja. Ningrum mau pesan makan malam pakai GoFood saja saya cegah. Terlalu lama depan laptop membuat nafsu makan saya hilang. Pesan makanan ujung-ujungnya bakalan mubazir juga.
Baru pukul 22.00 WIB Susanti sudah bolak balik menguap. Sebentar-sebentar dia terkapar di lantai. Jadi, saya suruh saja dia tidur duluan sama Ningrum. Besok pagi lanjut lagi setelah sholat subuh. Masih ada waktu untuk menyelesaikan laporan skripsi dan membuat PPT nya.
Pukul 23.10 WIB mata saya pun nggak bisa di ajak kerja sama lagi. Saya langsung matikan laptop dan bergegas masuk kamar untuk tidur. Tapi anehnya malam itu saya tidak bisa tidur nyenyak. Padahal mata ngantuk dan badan juga penatnya luar biasa.
Saya berkali-kali bangun sekitar pukul 00.15 s/d 02.00 WIB. Waktu berjalan sangat lambat. Sudah kayak pagi besok mau akad nikah saja. Apakah saya risau karena seminar hasil besok pagi? Tidak sama sekali. Saya datang dengan segala persiapan. Mulai dari aplikasi, laporan, PPT sudah saya siapkan semuanya dari rumah jauh-jauh hari. Itu yang membuat saya santai dan berada di kondisi yang sangat baik.
Tapi tidak tahu kenapa, firasat saya mengatakan ada yang tidak beres. Entah terjadi nya sama saya pribadi atau sama Susanti. Kalau terjadinya sama Susanti, kok saya bisa merasakannya? Iya, itu karena saya sudah bersahabat sama Susanti hampir 18 tahun. Jadi, sedikit banyak saya juga bisa merasakan apa yang akan terjadi di kehidupan orang-orang terdekat saya.
Pukul 02.16 WIB saya terbangun lagi. Langsung ke kamar mandi, wudhu dan sholat tahajud. Saya berdoa semoga besok pagi saya dan Susanti di berikan kemudahan dan kelancaran saat seminar hasil. Setelah sholat tahajud, hati saya memang menjadi lebih tenang. Tapi firasat akan terjadi sesuatu besok hari tetap saja ada.
***
Pukul 04.30 WIB Susanti sudah sibuk bangunkan saya. Padahal saya sudah bangun setengah jam sebelumnya. Setelah sholat subuh, saya kembali membantu Susanti memperbaiki laporan skripsi. Pukul 07.00 WIB, Ningrum temankan Susanti print laporan skripsi 4 rangkap. Laporan skripsi yang sudah di print dari Bengkalis terbuang sia-sia karena banyaknya kalimat yang harus di perbaiki.
Sebelum mereka berdua pergi, bolak balik saya pesan sama Ningrum "Jangan pulang lewat pukul 08.00 WIB". Saya pesan begitu karena saya seminar hasilnya mulai pukul 09.00 WIB. Harus tepat waktu dan tidak boleh telat walau cuma 1 menit. Perjalanan dari rumah Ningrum ke kampus itu cukup jauh. Belum lagi kalau di perjalanan terjebak macet.
Awalnya Ningrum mau mengantar saya ke kampus pakai mobil dan kemudian balik lagi jemput Susanti di rumah. Tapi saya tidak mau, takut terjebak macet. Selain itu saya juga kesian sama dia harus bolak balik. Jadinya saya minta tolong di pesankan Gojek saja. Lebih sat set kayak mendekati cewek yang sudah ditakdirkan menjadi jodoh 😅
Sebelum Gojek datang, saya minta di temankan sama Ningrum kerumah orang tuanya yang berada lebih kurang 10 meter dari rumahnya. Bukan, saya bukan minta restu untuk melamar Ningrum sama orang tuanya, tapi saya dan Susanti mau silaturahmi dan mengucapkan terima kasih karena sudah diizinkan menginap di rumah Ningrum. Orang tua Ningrum ramah banget. Mamanya cantik sebelas dua belas sama Ningrum. Sorot matanya tajam menandakan beliau orangnya tegas tapi baik hati. Sedangkan Papa Ningrum sorot matanya lembut. Tipikal orang yang mudah ikhlas menerima keadaan yang sudah di takdirkan.
Setelah salaman dan meminta doa kepada orang tua Ningrum, Gojek pun datang. Sebelum pergi saya pesan sama Susanti, bawa semua barang dan jangan kelupaan satu pun. Sudah kebiasaan Susanti sejak dulu, kalau sudah panik, fokusnya langsung buyar.
Di perjalanan Kang Gojek nya ngajak ngobrol banyak hal. Mulai dari kerjaan sampai ke pendidikan. Beliau pesan, sebelum menikah sebaiknya kuliah setinggi mungkin. Sebab kalau sudah nikah kayak dia, banyak hal perlu di fikirkan. Boro-boro mau kuliah, uang sekolah anak pun sering kali keteteran.
Kang Gojek juga sempat bertanya, Ningrum itu siapa? Saya bilang kalau Ningrum itu teman kuliah saya. Lah, kok Kang Gojek ini kenal sama Ningrum? Dan saya baru sadar, kalau yang pesankan Gojek ini pakai aplikasi di Hp Ningrum. Jadi sudah pasti nama Ningrum tertulis jelas di aplikasi tersebut.
10 meter mau sampai kampus, hujan mulai turun. Kalau Ningrum terlambat sedikit saja pesan Gojek, alamat saya kehujanan di jalan. Apakah ini yang menjadi firasat saya malam tadi? Mungkin.
SEMINAR HASIL
Saya sampai ke kampus pukul 08.36 WIB. Setelah turun dari motor, tidak lupa saya ucapkan terima kasih sama Kang Gojek dan minta di doakan agar Seminar Hasil saja nanti berjalan lancar. Kang Gojek bilang "Aman, adek pasti lulus" sambil mengenyitkan matanya sebelah sama saya. Mungkin Kang Gojek nya masih kefikiran sama Ningrum 😂
Sebelum masuk keruang sidang, saya terlebih dahulu masuk ke ruang Ka Prodi untuk menyerahkan bukti lunas pembayaran uang kuliah. fotokopi ijazah dan transkrip nilai D3, fotokopi KTP dan juga fotokopi Kartu Keluarga. Setelah itu saya langsung masuk ke ruang sidang untuk mempersiapkan semuanya.
Pukul 09.20 WIB seminar hasil saya di mulai. Setelah presentasi lebih kurang 10 menit, saya langsung mendemokan aplikasi yang saya buat. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Aplikasi saya jalan 100% tanpa ada debug. Laporan skripsi saya juga sudah hampir lengkap. Dosen penguji hanya minta di tambahkan beberapa hal yang masih kurang. Saya menjawab semua pertanyaan yang di ajukan dosen penguji dengan tingkat percaya diri yang sangat tinggi. Pada akhirnya saya dinyatakan LULUS dan berhak menyandang gelar Sarjana Komputer (S.Kom).
CIHUYYY....
Setelah keluar dari ruang sidang, saya baru sadar kalau saya hanya menghabiskan waktu 45 menit untuk seminar hasil. Sebab pas saya keluar ruangan, saya lihat jam baru menunjukkan pukul 10.05 WIB.
Susanti bilang jadwal sidangnya di undur sebab pengujinya sedang mengadakan rapat dadakan. Yang awalnya pukul 10.30 WIB, di undur menjadi pukul 13.00 WIB.
BOOMMM...
Kayaknya firasat buruk saya malam tadi terjadinya sama Susanti. Bukan sama saya. Sebab, seminar hasil saya berjalan lancar tanpa kendala. Mulus banget kayak paha sapi 😄
Pas saya bilang begitu sama Susanti, dia langsung nggak tenang duduk. Resah. Sudah kayak ayam yang tidak sengaja tertelan putik durian.
Dari pukul 10.10 WIB sampai pukul 13.00 WIB, waktu berjalan begitu cepat. Awalnya kami berdua mau makan terlebih dahulu di kantin kampus, tapi tidak sempat. Susanti sibuk menyiapkan keperluan sidang.
Seperti yang saya bilang di atas, Susanti kalau sudah panik, nggak bisa fokus sama sekali. Misalnya dia ingin menulis komentar dosen pembimbing di kartu bimbingan, pulpen sudah dia pegang tapi masih tanya "Pulpen tadi mana?" 😪
Pukul 12.30 WIB, kami berdua mulai masuk ke ruang sidang Susanti. Saya bantu mempersiapkan semuanya. Mulai dari menyusun laporan dan cemilan untuk penguji, setting LCD Proyektor sampai mengatur agar aplikasi nya tinggal di jalankan saja.
Semakin dekat waktu sidang, Susanti makin takut. Saya coba menenangkan dia. Saya bilang "Semua akan baik-baik saja".
Walaupun saya bilang begitu. Tapi sebenarnya saya juga tidak yakin. Pertama, firasat saya sangat jarang meleset. Kemungkinan Susanti akan kesulitan saat di Seminar Hasil nanti. Kalau pertanyaan mungkin Susanti bisa menjawab semuanya. Tapi bagaimana kalau aplikasi dan laporan Susanti banyak yang kena?.
Kedua, saya menyadari 1 hal bahwa dua orang dosen penguji Susanti yang sudah di tetapkan oleh Ka Prodi tidak bisa hadir saat itu. Satu penguji sedang di Padang karena melanjutkan study S3 nya sedangkan satu penguji lagi ada urusan di salah satu kampus di Kota Dumai. Beliau menjabat Rektor di kampus tersebut.
Kalau dosen penguji yang sudah di tetapkan tidak bisa hadir, sudah tentu akan pakai dosen pengganti. Kalau dosen penggantinya oke sih nggak masalah. Bagaimana kalau dosen penggantinya galak? 🤣
Dan ketika dosen pengganti masuk ke ruangan sidang Susanti, saya langsung berucap "Habislah sudah". Dua-dua dosen pengganti nya lumayan teliti. Aplikasi dan laporan Susanti sudah pasti di kuliti habis.
Dari mulai Susanti masuk ke ruangan sidang, saya tetap setia menunggu di kursi luar. Saya hanya beranjak ketika Ningrum sampai di kampus dan menunggu saya di parkiran.
Setelah ketemu Ningrum, saya langsung mengajak dia menunggu Susanti di kursi luar. Ningrum sempat bertanya "Bang Hatim sudah makan?"
Saya jawab "Nggak sempat, Rum! Menenangkan Susanti yang panik saja memakan waktu yang cukup banyak 😓".
Waktu itu saya lapar banget. Tapi ketika Ningrum suruh saya makan duluan, saya nggak mau. Saya mau nunggu Susanti selesai dulu. Nanti baru kami makan sama-sama. Agar perut tidak terlalu keroncongan, Ningrum memberi saya kopi es dan juga pisang goreng.
Sayup-sayup dari luar saya mendengar kalau aplikasi dan laporan Susanti banyak yang kena. Ada fitur yang perlu di tambahkan di aplikasi dan ada paragraf di laporan yang perlu di perbaiki. Karena kurang lengkap dan ada juga yang nggak sinkron sama sekali. Intinya sesuai dengan firasat saya tadi malam. Akan ada kesulitan yang datang menghadang. Dan terbukti sekarang.
Satu jam lebih Susanti dalam ruangan tersebut. Saya sempat dua kali ke kamar mandi karena nggak tahan mau buang air kecil. Dan pada akhirnya seminar hasil pun berakhir. Satu hal yang sangat saya kagumi adalah Ka Prodi sekaligus dosen pembimbing Susanti yang sangat responsif dan siap menjadi tameng ketika Susanti mengalami kesulitan saat menjawab pertanyaan dosen penguji.
Lucunya ketika sidang selesai dan Ka Prodi berpapasan sama saya, beliau bertanya "Hatim, tadi Susanti sudah kamu kasih makan?".
Saya cuma tersenyum tidak menjawab. Tapi dalam hati saya bergumam "Saya bukan suaminya, buk. Saya saja sampai nggak makan gara-gara Susanti 😖".
Tapi ending nya kami bisa lulus sama-sama. Walaupun ada banyak sekali revisi terutama Susanti. Saya fikir positif saja, namanya juga Seminar Hasil. Ada penguji dan ada yang di uji. Sebagus apapun aplikasi dan laporan skripsi yang kita buat, akan tetap ada yang namanya revisi. Dan itu hal yang sangat lumrah. Jadi, tidak perlu terlalu di ambil pusing. Yang penting LULUS.
Dan saya senang bisa menepati janji. Dulu waktu tanggal 19 Februari 2024 kami berdua daftar kuliah, saya pernah berjanji "Kita masuk kuliah sama-sama, jadi selesainya juga harus sama-sama". Dan hari ini semuanya terbukti.
Untuk Ningrum, terima kasih ya sudah banyak membantu. Maaf kalau kami berdua banyak merepotkan. Tetap semangat kuliahnya. Dan semoga cepat sarjana 🎓
0 Response to "Seminar Hasil"
Post a Comment
Silahkan tinggalkan komentar terkait tulisan di atas. Gunakan bahasa yang baik dan sopan. Terima kasih!