Di Antara Waktu yang Patah
di detik yang tak sempat bernapas itu.
Seolah waktu tersandung,
lalu jatuh tanpa sempat berdiri lagi.
Namamu masih menggema
di sudut-sudut rumah yang tak berubah,
kursi yang kau duduki
masih setia menunggu tanpa tanya.
Aku masih di sini, Kak,
terjebak di antara kemarin dan kehilangan,
memungut serpihan tawa kita
yang kini tajam melukai ingatan.
Semua terasa seperti mimpi
yang terlalu nyata untuk diabaikan.
Aku ingin bangun,
tapi dunia justru terus memaksaku sadar.
Bagaimana mungkin kau pergi
sementara suaramu masih hangat
di ujung percakapan terakhir kita?
Bagaimana mungkin sunyi ini
datang secepat itu,
tanpa aba-aba, tanpa pamit?
Hatiku seperti ruang yang runtuh,
penuh debu kenangan yang beterbangan,
mencari bentukmu
di setiap hal kecil yang kau tinggalkan.
Aku marah pada waktu,
yang begitu kejam memotong cerita,
meninggalkan aku
di tengah kalimat yang belum selesai.
Namun lebih dari itu,
aku lelah menawar takdir
yang tak pernah mau berunding.
Kak,
aku belum siap kehilanganmu.
Bahkan kata “ikhlas”
terasa seperti batu
yang terlalu berat untuk kuangkat sendiri.
Setiap malam
aku mencoba merapikan rindu,
menyusunnya pelan-pelan
agar tidak terlalu menyakitkan,
tapi selalu saja berantakan.
Aku belajar menerima
meski hati terus menolak,
belajar tersenyum
meski dada terasa penuh retakan.
Dan di antara waktu yang patah ini,
aku perlahan mengerti,
bahwa kehilangan
bukan tentang melupakan,
melainkan tentang bertahan
dengan luka yang memilih tinggal.
Jika suatu hari nanti
air mata ini mulai mengering,
bukan berarti aku sudah kuat.
Hanya saja aku mulai terbiasa
hidup tanpamu.
Selamat jalan, Kak…
di setiap detak yang masih tersisa,
namamu akan tetap hidup
meski dunia telah merenggut ragamu.
Dan aku...
akan terus berjalan,
meski tertatih
di antara waktu
yang tak lagi utuh.

Posting Komentar untuk "Di Antara Waktu yang Patah"
Silahkan tinggalkan komentar terkait tulisan di atas. Gunakan bahasa yang baik dan sopan. Terima kasih!