Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Niatnya Benar, Tempatnya Salah

Sudah menjadi kebiasaan turun temurun, setiap mendekati bulan suci Ramadhan, di tempat saya tinggal selalu melakukan yang namanya ziarah kubur. Ini kebiasaan yang sangat baik karena mengingatkan kita pada kematian. Hal ini diharapkan bisa memacu semangat kita untuk selalu berbuat baik. Hitung-hitung buat persiapan sebelum ajal datang menjemput. 

Tahun ini Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk ziarah ke kuburan Atok bersama saudara-saudara saya sebelah emak. Di kampung saya juga untuk pertama kalinya diadakan ziarah kuburan massal. Tapi saya tidak sempat ikut karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Berhubung sekarang di tempat saya musim kemarau, ziarah kubur terasa lebih menantang. Pukul 17:00 WIB cuaca pun masih cukup panas. Baru duduk sebentar saja, keringat sudah bercucuran. Dalam hati saya berkata "Panas di dunia saja sudah begini, apalagi panas di akhirat".

Setelah selesai membaca Yasin, saya melihat sekeliling perkuburan. Tanah kuburan terlihat kering dan berdebu. Rumput-rumput liar menguning. Musim panas yang mampu meretakkan tanah membuat areal perkuburan ini menjadi seperti tidak terurus. Semua itu mengingatkan saya ketika saya dan emak ziarah ke kuburan yang salah beberapa tahun yang lalu.

Niatnya Benar, Tempatnya Salah

Jadi, beberapa tahun yang lalu saya dan emak ziarah ke areal perkuburan yang sama. Kami cuma pergi berdua. Sebab saudara-saudara yang lain sudah pergi duluan beberapa hari sebelumnya. Pas sudah sampai, kami sibuk mencari kuburan Atok. Setelah sampai di satu titik, emak berhenti. “Seingat emak di sini” katanya pelan.

Di depan kami ada sebuah kuburan tua. Nisannya sudah kusam. Tulisan namanya bahkan tidak bisa lagi dibaca. Emak tampak ragu-ragu, tapi tetap duduk. Saya yang memang tidak terlalu hafal letak pastinya hanya ikut-ikutan saja.

Tanpa banyak tanya, kami langsung membaca Yasin. Suara kami pelan, kadang terputus oleh napas yang tersengal karena udara panas. Setelah itu dilanjutkan dengan tahlil dan doa. Semua berjalan lancar. Khusyuk.

Tidak ada yang terasa aneh.

Sampai akhirnya, setelah selesai dan hendak pulang, kami melangkah keluar dari barisan kuburan itu. Baru beberapa meter berjalan, saya melihat sebuah kuburan dengan kepuk dari batu marmer yang masih kokoh dan bersih. Tulisan di nisannya jelas terbaca. Nama Atok terpampang nyata di situ.

Saya berhenti.

“Mak…”

Emak ikut melihat. Beberapa detik kami saling diam.

Kuburan yang baru saja kami doakan tadi ternyata bukan kuburan Atok. Kuburan Atok yang sebenarnya justru kami lewati begitu saja saat datang. Letaknya tidak jauh. Bahkan lebih jelas dan lebih terawat. Rasanya campur aduk. Mau ketawa rasanya tidak sopan. Mau malu, ya memang sudah terlanjur.

“Macam mana ini, Mak?” bisik saya.
Emak hanya tersenyum kecil. “Ya sudah lah… mungkin dia pun perlu doa.”

Kami pun sempat berdiri beberapa saat di depan kuburan Atok yang sebenarnya. Tidak lagi membaca Yasin dari awal, sebab sejak tadi niat itu memang untuk beliau. Hanya saja kami salah duduk. Kami hanya mengulang doa yang singkat saja, memastikan hati kami benar-benar tertuju kepada beliau.

Pulang dari kuburan, saya terus kepikiran kejadian itu. Awalnya terasa memalukan. Tapi lama-lama saya berpikir, mungkin tidak ada doa yang sia-sia. Meskipun salah alamat, yang kami baca tetap ayat-ayat Al-Qur’an. Tetap doa. Tetap harapan kebaikan. Siapa tahu, justru orang yang tak kami kenal itu sedang sangat membutuhkan kiriman doa dari dua orang yang tersesat sore itu.

Dan dari situ saya belajar satu hal kecil. Dalam hidup, kita kadang merasa sudah berada di tempat yang benar. Sudah yakin dengan arah yang kita tuju. Tapi ternyata kita berdiri di “kuburan yang salah.”

Bedanya dengan sore itu, di kuburan kami masih diberi kesempatan untuk sadar sebelum benar-benar pulang. Masih bisa berdiri. Masih bisa memperbaiki arah. Dalam kehidupan nyata, tidak selalu begitu. Ada kesalahan yang baru kita sadari ketika semuanya sudah terlalu jauh.

“Salah kuburan” itu mungkin terdengar lucu jika diceritakan. Dan memang, kalau diingat-ingat lagi rasanya ingin tersenyum sendiri. Tapi di balik kejadian sederhana itu, ada pengingat yang tidak sederhana: pastikan arah sebelum merasa sudah sampai.

Karena itu mungkin ziarah kubur bukan hanya tentang mendoakan yang sudah pergi. Tapi juga tentang mengingatkan diri sendiri agar tidak salah arah sebelum benar-benar masuk ke kuburan yang sesungguhnya.

14 komentar untuk "Niatnya Benar, Tempatnya Salah"

  1. Sebenernya ziarah kubur itu gak mesti setahun sekali tapi kebanyakan orang indo itu merantau dan sempat ziarahnya waktu pulang kampung aja. Ini yg bikin kita sering salah alamat kubur. Saya yg anak rantau ini belum tuh ziarah kemakam emak tapi semoga doa selalu sampai ya dan diberi kesempatan buat ziarah ke makamnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat setuju, mas. Ziarah kubur memang nggak mesti setahun sekali. Setiap ada waktu, silahkan ziarah. Cuma memang menjelang Ramadhan menjadi moment kembali nya sanak saudara dari rantau ke kampung halaman. Jadi, moment kebersamaan itu digunakan untuk ziarah kubur.

      Untuk yang belum sempat ziarah kubur orangtua, doa selepas sholat sangat di anjurkan. Insyaallah sampai..

      Hapus
  2. Kebayang sih akwardnya gimana pas tatap-tatapan itu. Tapi bisa gitu ya, kirain kalau udah rutin dan terbiasa nggak mungkin lagi ada case salah makam. ternyata masih bisa kejadian juga. Its okay mas, orang yang berdoa dan di doakan sama-sama dapat pahala.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena dalam satu tahun belakangan banyak makam baru jadi lupa patokan biasanya. Apalagi batu nisan nya sudah tidak ada lagi tulisannya. Hanya mengandalkan kira-kira semata tanpa tahu letak pastinya

      Hapus
  3. Nggak apa mas mungkin kamu dipercaya untuk mendoakan makam yang bukan tempat tujuanmu... Meski akhirnya kamu tahu makam yang kamu tuju sesungguhnya.

    Kalau aku belum pernah ngalamin cuma karena banyak makam baru, Makam keluarga seraya lebih terponjok dan jauh. Beruntung saya hafal sama warna Nisan dan bentuk posisi makamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dari tahun ke tahun banyak makam baru yang bertambah sehingga makam keluarga kita kayak semakin jauh aja gitu. Kalau berpatokan pada nisan yang namanya masih tertulis jelas, kejadian seperti diatas bisa di minimalisir.

      Hapus
  4. Ziarah kubur sebelum bulan puasa sepertinya memang sekarang menjadi tradisi, padahal ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja.

    Kalau salah kuburan, kira-kira doanya sampai ke orang yang dituju atau ke orang yang di kubur itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jadi semacam tradisi sekarang mas. Apalagi di kampung-kampung.

      Insyaallah kedua-duanya mas. Allah SWT Maha Mengetahui

      Hapus
  5. Kadang niat memang sudah benar, tapi kalau tempat atau waktu tidak tepat, hasilnya bisa lain dari yang diharapkan. Ini jadi pengingat bahwa konteks juga penting dalam setiap keputusan yang kita ambil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini yang paling penting mantap mbak. Memang itulah yang saya fikirkan sejak awal. Harus benar-benar dipastikan sebelum jauh melangkah. Seperti saat kita menjalani kehidupan, tidak cukup modal agak-agak doang. Harus benar-benar yakin

      Hapus
  6. aku tipe yg susaaaah banget mengingat suatu tempat, apalagi kubur yg banyak banget dengan lainnya ;p... cuma untungnya suami mudah ingat, dan dia juga rutin kan tiap bulan ke kubur mama papa juga adik, so, ga lupa, kayak udh hapal aja tempatnya di mana... beda cerita kalau aaku pergi sendiri, bhaaay bhaaay langsung hahahahaha ... kurasa bakal salah jiarah kubur juga mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hitungan bulan saja kuburan bertambah lagi, Mbak. Memang harus bersama dengan orang yang tahu persis letaknya baru lebih mudah.

      Hapus
  7. Alhamdulillah Mas Hatim, saya dan sekeluarga juga tahun ini masih diberi kesempatan untuk ziarah kubur dan mendoakan anggota keluarga yang sudah berpulang ☺ Doa saya juga untuk Atok dan semua yang sudah lebih dulu kembali ke Rahmatullah. Dan mudah-mudahan tahun depan kita semua masih bisa menyambut dan merayakan Ramadan serta Lebaran dalam keadaan sehat wal afiat, aamiin 🙏🏻

    Omong-omong saya sedikit salfok, ternyata di tempat Mas Hatim sudah masuk musim kemarau ya? Di sini masih hujan terus, agak pusing juga karena sudah beberapa kali gang saya kebanjiran 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Semoga tahun depan masih diberi kesempatan menyambut dan merayakan Ramadhan serta lebaran dalam keadaan tidak kurang apapun juga.

      Iya, kak. Di tempat saya sudah masuk musim kemarau. Bulan Ramadhan kemaren cuma sekali hujan lebat dan malam lebaran cuma hujan sedikit. Sekarang sedang panas-panasnya. Bahkan, parit sudah mulai kering. Tanah mulai retak-retak dan jalanan penuh dengan debu-debu.

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar terkait tulisan di atas. Gunakan bahasa yang baik dan sopan. Terima kasih!