Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Selamat Jalan, Kak

Selamat Jalan, Kak

Malam itu, waktu seperti tersedak.
Kau menggenggam perutmu
sementara kami menggenggam keyakinan
bahwa esok masih milik kita.

Tak ada firasat,
tak ada langit yang retak,
hanya napas biasa
yang diam-diam menyiapkan perpisahan.

Siang membawamu ke ruang putih
yang berbau doa dan ketakutan,
dan aku masih keras kepala percaya.
Bahwa takdir bisa ditunda
jika kita cukup berharap.

Tapi Senin malam pukul 22.15,
semesta menjatuhkan palunya.
Namamu dipanggil
dengan cara yang terlalu sunyi untuk dimengerti.

Kak…
sejak itu, rumah kehilangan arah,
dan aku kehilangan tempat
untuk pulang sebagai adik.

Kau tahu?
aku masih menyimpan suaramu
di sudut-sudut ingatan.
Ketika aku runtuh karena cinta,
dan kau menjadi tangan
yang merakit ulang hatiku
tanpa pernah meminta balasan.

Sekarang hatiku kembali retak, Kak!
Tapi tangan itu sudah menjadi langit
yang tak bisa lagi kugapai.

Ada hari yang seharusnya kau hadiri.
Aku berdiri di panggung dengan toga,
mencari wajahmu di antara tepuk tangan
yang terasa kosong.

Katamu kau ingin datang,
tapi hidup menahannya
di pelukan bayi yang baru belajar dunia.

Dan janji itu…
tentang baju yang sama di hari pernikahanku.
Kini tergantung di lemari waktu,
berdebu bersama mimpi
yang tak pernah sempat kita kenakan.

Ternyata bukan hanya rencanaku yang gagal,
tapi juga masa depan kita
yang diam-diam ikut dikuburkan.

Yang paling sunyi bukan kepergianmu, Kak!
Tapi yang tertinggal setelahnya:

sepasang mata kecil
yang belum mengerti kehilangan,
yang kelak akan belajar bahwa rindu
bisa tumbuh bahkan sebelum ia mengenal arti kata itu.

Bagaimana aku menjelaskan nanti?
bahwa ibunya adalah doa
yang terlalu cepat dikabulkan langit?

Semua orang terkejut,
seperti dunia kehilangan detak tanpa aba-aba.
Empat puluh satu tahun,
seumur cahaya yang tiba-tiba dipadamkan
tanpa alasan yang bisa kami peluk.

Kau terlalu baik untuk pergi secepat ini.
Atau mungkin,
dunia terlalu sempit
untuk menampung kebaikanmu terlalu lama.

Sekarang aku mengerti, Kak!
kehilangan bukanlah perpisahan,
ia adalah cara lain
bagi rindu untuk hidup selamanya.

Jika nanti aku terlihat baik-baik saja,
itu hanya karena aku belajar
menyembunyikan hujan
di balik wajah yang kering.

Karena sebagian dari diriku
ikut terkubur malam itu.
Bersama namamu
yang kini lebih sering kupanggil
dalam diam.

Selamat jalan, Kak…
pergilah dengan damai
meski aku belum selesai merelakan.

Di sini,
aku akan terus hidup
dengan luka yang belajar bernapas,
dan doa yang tak pernah menemukan titik.

1 komentar untuk "Selamat Jalan, Kak"

  1. Dulu..
    Saat kita Pergi Takziah
    Kita Selalu Memberikan Semangat Kepada Orang Lain
    Sabar
    Allah Lebih Sayang Dengan Almarhumah..
    Tapi Saat Kita Menjalani nya itu cukup Berat..
    Bukan Kita Tidak Ikhlas
    Tapi Banyak Kenangan Dan Impian Bersamanya
    Alfatihah Kak Nani,😭

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar terkait tulisan di atas. Gunakan bahasa yang baik dan sopan. Terima kasih!