#HBD36Hatim

Hari ini saya genap berusia 36 tahun. Iya, tiga puluh enam. Umur yang membuat ibu-ibu dikampung saya selalu bertanya “Kapan Nikah?”.

Kadang saya heran, umur orang Indonesia itu bukan dihitung dari tanggal lahir, tapi dari pertanyaan tetangga.

Kalau dipikir-pikir, hidup saya biasa-biasa saja.

Karier?
Masih karyawan honorer.

Percintaan?
Masih loading.

Tabungan?
Kadang lebih tipis dari kulit bawang.

Mobil?
Yang ada cuma Mobile Legends. Kuy, mabar. Mumpung akhir season masih lama 😂

Pendidikan?
Kalau ini saya punya cerita tersendiri.

Jadi, saya tamat D3 Jurusan Teknik Informatika Politeknik Negeri Bengkalis tahun 2012 yang lalu. Setelah tamat D3, saya berencana untuk melanjutkan S1. Tapi sayangnya di Bengkalis belum ada kampus yang buka jurusan untuk mahasiswa transfer. Sempat mengajukan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di ITS atau ITB tapi terkendala biaya awal masuknya. Jadi saya putuskan untuk kerja saja.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Setelah 12 tahun berlalu, saya akhirnya punya kesempatan melanjutkan kuliah S1 Jurusan Teknik Informatika di Universitas Hang Tuah Pekanbaru. Awalnya teman saya Susanti yang mengajak saya melanjutkan kuliah. Walau sempat ragu karena waktu itu saya berencana mau nikah, tapi ujung-ujungnya saya malah setuju. Kami mendaftar kuliah tanggal 19 Februari 2024 dan seminar hasil tanggal 18 Agustus 2025. Lebih kurang 1,5 tahun untuk kami berdua menyelesaikan S1.

Jujur, rasanya agak lucu. Di saat banyak orang mungkin sudah lupa suasana kampus, saya malah kembali jadi mahasiswa. Mengerjakan tugas. Begadang. Revisi. Ujung-ujungnya bingung sendiri. Kadang saya merasa seperti “abang-abang senior” yang nyasar di antara mahasiswa yang umurnya jauh lebih muda.

HBD36Hatim

Tapi di situlah akhirnya saya sadar. Tidak semua orang punya garis waktu hidup yang sama. Ada yang cepat selesai kuliah lalu langsung sukses. Ada yang menikah muda dan hidup mapan. Ada juga yang jalannya harus muter dulu ke mana-mana sebelum sampai tujuan. Dan sepertinya saya termasuk yang jalannya agak memutar.

Waktu kecil saya berpikir umur 30-an itu sudah pasti sukses. Minimal sudah mapan. Punya keluarga harmonis, rumah, mobil dan foto profil media sosial berdiri depan cermin pamersambil pegang iPhone. Tapi setelah sampai diumur yang sekarang, saya baru sadar ternyata ekpektasi tidak seindah realita. Diumur yang sudah hampir menginjak kepala orang ini, saya masih bingung besok mau makan apa terus kemudian pura-pura tegar melihat isi saldo.

Kadang saya juga sering membandingkan diri dengan teman-teman. Ada teman saya yang kariernya sudah tinggi. Ada teman saya yang anaknya sudah sekolah. Ada teman saya yang tiap minggu healing keluar kota.

Sedangkan saya?

Buka folder documents di laptop saja masihlebih sering melihat file dengan nama: "REVISI SKRIPSI MUHAMMAD HATIM FINAL 100%".

Tapi makin ke sini saya mulai capek membandingkan hidup. Karena saya yakin setiap orang punya perjuangan yang tidak selalu terlihat. Misalnya saja teman dekat saya. Dia sangat cantik. Suaminya tinggi dan ganteng. Anaknya lucu. Mereka berdua sama-sama kerja. Kalau dilihat dari luar, mereka adalah potret keluarga kecil yang sangat bahagia. Tapi kabar terakhir yang saya terima, teman saya tersebut telah berubah status menjadi janda. Dari situ saya berfikir bahwa apa yang kita lihat belum tentu itu kenyataan yang sebenarnya. Ada yang kelihatan harmonis tapi sebenarnya lelah. Ada yang terlihat santai tapi pikirannya berkecamuk. Ada yang posting foto senyum di media sosial tapi hidupnya juga sedang berantakan.

Dan saya mulai sadar, mungkin saya memang belum jadi orang hebat. Tapi saya juga tidak benar-benar gagal. Saya masih bangun pagi untuk bekerja. Masih mau belajar hal baru. Masih punya semangat menulis di blog, mendesain template dan ide-ide kecil yang kadang menurut orang biasa tapi bagi saya itu sudah keren pake banget.

Tapi justru hal-hal kecil itu yang membuat saya terasa tetap bergerak. Mungkin hidup memang tidak selalu tentang siapa paling cepat sampai. Tapi tentang siapa yang tetap berjalan walaupun pelan. Karena percaya atau tidak, bertahan juga butuh tenaga. Apalagi di umur sekarang. Tidur larut malam sedikit, besok paginya langsung meriang. Duduk salah sedikit, pinggang langsung protes. Makan pedas sedikit, perut ngajak bolak-balik ke kamar mandi.

Umur 36 membuat saya mulai berdamai dengan banyak hal. Berdamai bahwa hidup saya belum sempurna. Berdamai bahwa ada beberapa hal yang datang terlambat. Dan berdamai bahwa jalan hidup saya memang bukan jalan tol. Kadang tanjakan. Kadang berlubang. Kadang muter dulu entah ke mana.

Tapi saya tetap bersyukur. Masih diberi umur. Masih bisa tertawa. Masih punya keluarga dan orang-orang baik di sekitar saya. Masih bisa makan enak walau kadang menunya dipilih berdasarkan promo.

Dan yang paling penting, saya masih punya harapan. Siapa tahu diumur 36 ini justru jadi awal cerita bagus yang selama ini tertunda. Kadang hidup itu lucu. Saat kita merasa semuanya terlambat, ternyata cerita terbaik malah baru dimulai.

Jadi untuk diri saya sendiri: 

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.
Terima kasih sudah tetap mencoba walau sering ragu.
Terima kasih karena tidak menyerah diam-diam.
Dan itu sudah lebih dari cukup.

#HBD36Hatim
Posting Komentar

Back to Top
Home About Contact Sitemap