Biasakan Nonton Argentina Sampai Akhir

Ini kedua kalinya prediksi saya terbukti benar. Pertama, Spanyol berhasil mengalahkan Prancis di semifinal. Padahal saat itu banyak sekali orang yang menjagokan Prancis. Salah satu alasannya karena lini depan Prancis terbukti gacor. Tapi ketika berhadapan dengan Spanyol yang menduetkan gelandang Rodrigo Hernandez dan Fabian Ruiz, lini depan Prancis dibuat tidak main sama sekali alias mandul. Saat itu saya memprediksi Spanyol akan menang dengan skor tipis, 2-1. Tapi kenyataannya Prancis malah kalah dengan skor yang lebih sadis. Yakni 2-0 tanpa balas.

Kedua, Argentina berhasil mengalahkan Inggris dengan skor 2-1. Skor ini sesuai dengan prediksi saya sebelumnya. Sebenarnya Inggris sudah unggul duluan berkat gol dari Antony Gordon di menit ke-55. Tapi hanya butuh 7 menit sebelum waktu berakhir untuk Argentina melakukan remontada. Benar-benar gila.

Hasil Argentina vs Inggris

Di babak pertama, Inggris cukup berhasil memberi perlawanan agar Argentina tidak benar-benar menguasai permainan. Di babak ini, masing-masing tim silih berganti jual beli serangan. Walaupun sampai turun minum babak pertama skor tetap 0-0. Di babak ini ada satu catatan yang mau saya beri yakni kedua tim main agak kasar. Sudah kayak main bola antar kampung. Pelanggaran demi pelanggaran terjadi di babak ini.

Di babak kedua, Inggris unggul lebih dulu berkat gol dari Antony Gordon di menit ke-55. Tapi sayangnya, setelah unggul 1-0, Thomas Tuchel malah menarik dua pemain penyerang lalu menggantinya dengan dua pemain bertahan. Inggris langsung menerapkan Parking Bus setelah unggul 1-0.

Ini kesalahan terbesar menurut saya yang dilakukan oleh Pelatih Inggris. Seandainya Inggris tetap main ngotot, mungkin hasilnya akan berbeda. Thomas Tuchel tidak belajar dari Arsenal di final Liga Champion beberapa waktu yang lalu.

Kesalahan besar lainnya yang dilakukan oleh Inggris adalah memprovokasi pemain lawan. Terutama Lionel Messi. Terlihat beberapa kali pemain Inggris memprovokasi Lionel Messi. Termasuk Jude Bellingham. Pada babak pertama, Jude Bellingham sempat terlibat adu argumen dengan Lionel Messi. Gelandang Inggris itu lalu pergi sambil tersenyum dan tertawa. Sementara Lionel Messi terlihat tidak senang setelah mendengar apa yang dikatakannya.

Membuat Lionel Messi marah sama halnya dengan memancing singa yang sedang berburu. Semua orang mengakui hal tersebut. Dan hal itu terjadi lagi. Lionel Messi menjadi sosok pembeda ketika tim Argentina sangat membutuhkannya. Dua assist nya di menit 85' dan 90+2' berhasil mengantarkan Argentina back to back ke final piala dunia.

Kalau melawan Argentina, unggul 1-0 tidak bisa di bilang aman. Beberapa waktu yang lalu, Mesir malah sudah unggul 2-0. Tapi tetap saja di comeback sama Argentina. Argentina hanya butuh waktu lebih kurang 15 menit untuk menciptakan 3 gol. 

Argentina itu tipikal petarung. Setelah tertinggal terlebih dahulu, baru mereka biasanya bermain lebih ngotot. Mental pemainnya juga di atas rata-rata. Mereka tetap tenang meski pun tertinggal. Beda sama banyak tim yang fokus nya buyar ketika dalam posisi tertinggal. 

15 menit terakhir adalah waktunya Argentina menciptakan magic mereka sendiri. Lawan harus hati-hati di menit-menit segitu. Lengah sedikit langsung bisa di remontada. Salah satu kunci agar bisa mengalahkan Argentina adalah terus menekan selama mungkin. Jangan biarkan Argentina terlalu nyaman bermain dengan bola. Terutama passing pendek ala tiki taka nya Spanyol.

Apapun itu, saya cukup senang akhirnya final piala dunia 2026 di isi oleh Spanyol dan Argentina. Baby GOAT vs GOAT yang sebenarnya. Siapapun yang menang, sebagai pendukung Barcelona, saya tidak terlalu mempermasalahkannya.
Posting Komentar

Back to Top
Home About Contact Sitemap